Liburan-Lebaran

Bismillah

Huft, bingung mau mulai dari mana, sepertinya cerita ini ga bakalan jelas sekaligus aneh, ga ada awalnya, endingnya juga ga tau bakalan bermuara di mana… Yo wes lah, poko’e begitu… Hmmm, langsung aja ya.. Untuk tahun ini ga ada istilah liburan atau mudik buatku. Aku sendiri ga tau apakah aku harus ‘bersedih’, atau tetap ‘tertawa’ karena masih bisa menyambut idul fitri ini?? Bogor, untuk yang ke-3 kali aku menikmati idul fitri di kota hujan ini. Dan mungkin saja masih ada kali ke-4 atau ke-5 yang mungkin saja dapat terulang.

Sebagaimana yang kualami tahun ini, hanya senyum (ga tau buat nutupin kesedihan atau emang senyum kebahagiaan) yang terbersit saat aku kembali mengingatnya. Bukan ditempat kelahiranku Pulau Buru (AMQ), atau di Banyuwangi aku berlibur atau lebaran, tapi hanya di Bogor, tepatnya di Dramaga ini. Terkadang ada rasa iri saat mendengar semua orang sibuk membicarakan tentang ‘MUDIK’ dan dengan segala atributnya. Ingin aku membenci orang tuaku dengan segala kekhawatirannya yang membuat aku tidak bisa hidup ‘normal’ sebagaimana teman, sahabat, juga swdra/iku AZ yang lainnya. Merasakan mudik, bertemu orang tua dan keluarga, juga sahabat-sahabat lama yang tak mungkin dijumpainya selain di waktu lebaran. Tapi itulah orang tuaku, orang yang sangat menyayangiku lebih dari apapun. Sering kali ku dengar dari ujung telfon saat aku merengek minta pulang pasti dijawabnya, “Wes to nd0’ ga usah balek, ora usah neng banyuwangi, daripada neng kene mamak bapak ora tenang lhek nd0’ ijek neng perjalanan. Wes, neng Bogor ae yo…” (Udahlah nd0’ ga usah pulang, ga usah ke banyuwangi, daripada nanti disini mama bapak kepikiran kalau nd0’ masih di perjalanan. Udah, di Bogor aja ya..). Ya sudahlah, hanya kata itu yang bisa ku ucapakn. Aku tau ada berjuta cinta yang ikut terhambur bersamaan dengan kata-kata itu. Kekhawatirannya mampu menutupi segala kerinduan yang ada di dalam hatinya.

_luph U Mom n Dadh_

Akhirnya liburan dan lebaran hanya ku isi antara Bateng-Sengked. Wowwww, mantappp!!! Kontrakan, kampus (Faperta-Fahutan), dan sengked. Rasanya bosan!! Kontrakan berasa kuburan buatku. Tidak ada aktifitas, hanya nafas yang terus berhembus. Beku, hampa! Buka puasa terkadang masih ada teman, tetapi, sahur adalah waktu yang paling ku benci karena ku selalu dan selalu sendiri. Ajibh!! Hanya Hp yang mampu menghubungkan antara aku dengan orang-orang yang berada di luar sana. Bisa membuat aku tertawa, tetapi tak jarang pula karena hp aku jadi sakit hati. Apalagi jika dering ‘doraemon’ melantun dan disitu tertulis “MSL AM202’Yudhi”. Hoaghhh, isinya sudah pasti menyakitkan. Ya, sepertinya dia adalah orang yang paling bahagia menyaksikan aku masih hidup di kontrakan karena ga bisa mudik [Tega nian kau Yudh...]. Tapi aku masih bersyukur karena dia ga ada di hadapanku. Ga bisa kubayangkan kalau selama libur lebaran harus ketemu dia. Bisa gila aku ngliat tampangnya yang sok imut padahal amit-amit itu, yang super pedenya tingkat tinggi, juga kata-katanya yang susah dicerna, huft… Semoga aja cuma aku yang merasakan ini (Peace brother, ini kejujuran yang harus kau terima :-) )

Beralih ke tempat lain. Kampus tak ubahnya bangunan mati tanpa penghuni, Bara-Bateng senyap, jauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Damai!!! Atau malah sepi?? Jauh dari semua itu, lapangan belakang gymnasium menjadi tempat favorit untuk melepaskan kejenuhan, atau hanya sekedar mengingat sekelumit kisah lalu yang dapat membuatku tersenyum. Lari pagi sambil menikmati terbitnya matahari, mendengarkan cengkerama sang burung dan musik alam lainnya yang masih terasa mendamaikan, atau hanya sekedar menumpang ingin ikut merasakan kebahagiaan dari rombongan ibu-ibu dengan suaminya serta bocah-bocah kecil yang selalu berlarian sambil tertawa riang, tanpa beban!! Itu sudah cukup bagiku untuk membuatku tersenyum, atau malah membuatku semakin iri dengan kebahagiaan mereka??? Tak tahulah, kebahagiaan dan rasa pilu bagiku hanya dipisahkan oleh dinding tipis, keduanya mudah berbaur dan berganti tempat dengan begitu cepat.

Berlalu ke Sengked, kontrakan teman (Hardi’MSP dan Teguh’AGH) yang menjadi tempat ‘pengungsian’ ketika ketakutan itu mulai muncul, ketika takbir itu mulai bergema. Kebahagian menyambut kemenangan, kerinduan terhadap keluarga, serta kepedihan dalam jiwa terkumpul menjadi satu. Alhasil, PS menjadi pelarian untuk mengalihkan semua perasaan yang sudah tak jelas arahnya. Mengalihkan ketika air mata sudah berada di pelupuk, saat sesak sudah mulai menyebar, serta rasa sakit dalam hati yang mulai terasa ketika semua wajah-wajah orang yang kusayang hadir memberikan senyum kepadaku, senyum kebahagiaan mereka. Sakitt.. Akhirnya dengan terpaksa aku menerima stick yang diberikan ke tanganku dan mulailah aku belajar maen PS tersebut dengan hati yang masih belum ikhlas. Perlahan, rasa itu mulai memudar, hanya butuh waktu beberapa jam saja untuk menepis rasa tersebut. Akupun mulai tertawa, bahkan tertawa puas saat melihat skorku selalu di atasnya mereka (ssssstt, padahal temenku emang sengaja kusuruh ngalah, hahaha. Dasar, siti dah mulai erorrr). Ya, itulah sahabatku. Yang hanya tertawa saat ngliat aku kebingungan turun dari meja yang (menurutku) terlalu tinggi, serta menyaksikan kepalaku yang dengan sukses kebentur saat aku berusaha keluar kamar menuju samping rumah dengan memanjat jendela kecil di kamar tersebut.. Atau mereka hanya tersenyum aneh ketika aku teriak-teriak ga jelas di kamar mandi ngliat air jatuh dari kran tapi ga ada suara gemericiknya. Huft, pasti mereka memaklumi semua sikapku yang kadang-kadang ‘aneh’ itu. Bersama mereka sekedar berkelekar sambil membuat asida, atau hanya menonton tivi untuk menghabiskan waktu, bahkan sempat menjadi ‘pemulung’ di depan astri untuk sekedar menepiskan kerinduan dengan keluarga yang mungkin bukan hanya aku saja yang merasakannya. Ya, itulah mereka, sahabatku yang juga menikmati lebaran di kota seribu angkot ini.

Ya, hanya itu!!! Tak ada yang istimewa. Sholat Ied di GWW, masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Liburan??? Lebaran??? Tak begitu jauh berbeda… Masih jauh dengan orang tua, jauh dari pelukan mama’, jauh dari nasehat bapak, jauh!!! Akan tetapi lepas dari semua itu, aku tetap dapat merasakan dekapan mama’ yang hangat disetiap malamku, selalu terngiang tutur kata bapak yang amat ku cintai, perhatian dari seorang kakak yang selalu mengkhawatirkan adek satu-satunya, juga ‘si kutubuku kecil’ yang selalu dan selalu dengan penuh semangat di telfon berteriak penuh pengharapan, ”Bibiii’, beli’in buku cerita yaa.. Sama boneka Barbienya juga jangan lupa, nti di paketin aja… Ya ya, beli’in ya Bi…” Huft, itulah keponakanku yang super cerewet, bawel, dan ga bisa diem. Untung aja dia pinter, kalau engga’ kasian juga kakakku harus miara anak seperti dia (namanya Ayu Kartika). Tapi anehnya dia ga pernah nanya ‘Kapan bibi pulang??’ Tragiss!!! Dan yang lebih ajaib lagi, tahun lalu (Juli 2009) ketika aku mau berangkat lagi ke Bogor (liburan pertama kalinya di kampung halaman) dia terlihat murung banget. Dalam hati ada perasaan senang, ternyata dia sedih juga waktu mau ku tinggal, hehe. Terus mamanya nanya, “Kenapa ndo’, sedih ya Bibi dah mau berangkat?’ Dengan perasaan tanpa berdosa dan tanpamemikirkanbagaimanasakitnyaperasaankuketikaitu diapun menjawab, “Sedih, bentar lagi udah berpisah sama laptopnya Bibi…” Gubrakzzzz!!! Pengen aku nelen mentah-mentah tu makhluk kecil!!!!!!!!!! Dasar, bocah!!! Sepertinya aku memang tak pernah dirindukan oleh dia..

Akan tetapi, meski liburan dan lebaran tanpa orang tua dan keluarga, masih saja terasa ada kebahagiaan. Subhanallah, semuanya masih saja terasa indah, semuanya masih bisa ku syukuri meski dengan keadaan yang mungkin menurut orang lain hal tersebut terasa buruk. Karena ku yakin, disana, di tempat lain, masih banyak orang yang ga bisa mudik dan kehidupannya lebih berat dari yang ku alami sekarang.
Alhamdulillah ya Allah…

Thax to :
Allah yang masih memberiku kesempatan untuk menikmati Idul Fitri tahun ini
Mama’ n bapak yang tak pernah jemu mendoakan aku [ _luph U Mom n Dadh_]
Teguh n Hardi yang udah menyediakan tempat n waktu untuk lebaran bareng denganku juga selalu nelfon buat ngebangunin buat sahur, serta nemenin olahraga meskipun aku sedikit maksa (hehe, peace..)
Kakakku sekeluarga yang sering nelfon sehingga aku masih ngerasa selalu bareng ma kalian. Juga pulsa yang selalu mengalir buatku… cinta deh ma mba’, hehe.. moga rizkinya semakin berkah ya, amin
Swdra/iku Azimuth yang slalu ngebales smsq ataupun yang salalu terhubung melalui FB; Ade, Papa, Yudhi, Iphul, juga yg laennya, miss u all
Keluarga Matoa House, terutama reza n Abia yang menemani di kontrakan, juga Big Mother dikha, Bie, swdra, Dede, Mace, juga yang lainnya yang ga pernah jemu sms aku (cinta dech…)
Juga pihak-pihak terkait lainnya yang ga kesebut, thax ya… Tanpa kalian semua pasti hari-hariku tak seindah ini

:-)